Sabtu, 22 Februari 2014 Tags: , 0 komentar

DISLEKSIA



Pernahkah kalian mendengar kata disleksia?

Bagi kalian yang baru pertama kali mendengarnya, pasti akan bertanya-tanya.

Apa sih yang dimaksud dengan disleksia?

Tapi pernahkah kalian menonotn film Taare Zamen Par.

Loh apa hubungannya dengan film????


Taare Zamen Par merupakan  film yang menceritakan tentang anak penyandang diskelsia, bernama Ishaan Nandkishore Awasthi. Ishaan merupakan anak kelas 3 SD, yang perkembangan akademiknya sangat tertinggal karena tidak dapat membaca dan menulis. 


Disleksia Anugrah Terselubung

Disleksia merupakan kata yang berasal dari bahasa Yunani δυς- dys- ("kesulitan untuk") dan λέξις lexis ("huruf" atau "leksikal").

Disleksia(Inggris: dyslexia)  adalah bentuk gangguan belajar yang bukan diakibatkan dari retardasi (kelambatan) mental, cacat fisik, kurangnya motivasi belajar, kelambatan memahami instruksi  atau tidak adanya kesempatan belajar akibat faktor ekonomi, kebudayaan  atau  lingkunga. Tetapi disleksia adalah sebuah kondisi ketidakmampuan belajar pada seseorang yang disebabkan oleh kesulitan pada orang tersebut dalam melakukan aktivitas membaca dan menulis.

Penyandang disleksia umumnya mempunyai tingkat kecerdasan dan pemahman yang normal serta mampu berbicara lisan dengan baik. Namun mereka kesulitan dalam hal membaca, menulis, dan mengeja dalam bahasa ibu. Kesulitan mereka dalam hal tersebut membuat orang-orang  mencapnya sebagai anak yang bodoh.

Otak Yang Unik

Disleksia merupakan penyakit keturunan, disebabkan adanya kelainan gen dalam rangkaian kromosom nomor enam yang lebih dominan. Kelainan kromosom ini menghasilkan perbedaan neurologis pada otak. Penyandang disleksia memiliki belahan otak kanan yang lebih besar dari pada orang normal. Karena keunikan ini otak penyandang disleksia memiliki kabel-kabel yang berbeda pula. Neuron mereka berada di tempat yang tidak lazim dan susunannya tidak serapi pada orang non disleksia.

Saat membaca penyandang disleksia tidak menggunakan otak kirinya seperti pada orang normal, sehingga mereka tidak mampu menyimpan memori visual huruf dan angka. Hal tersebut disebabkan karena terjadinya cross lateralization, dimana fungsi otak kanan dan otak kiri saling bertukar. Misalnya mereka terpaksa menggunakan area di hemister kanan untuk membaca, dan karena daerah ini tidak beradaptasi dengan baik untuk tugas ini, maka kemampuannya pun tidak maksimal.

Namun, kelainan otak ini pula yang membuat penyandang disleksia memiliki keistimewaan dibandingkan orang non disleksia. Mereka dianugerahi bakat-bakat yang didukung oleha otak kanan, yang memberi mereka kelebihan dibidang artistik, atletik, mekanik, musikal, daya visualisasi 3 dimensi, dan kemampuan konseptual matematika. Selain itu mereka juga lebih kreatif, imanjinatif, intuitif, mampu berfikir global yang didukung rasa ingin tahu dan keuletan.




Daftar pustaka

Mulyanti,Sri. 2013. Perkembangan Psikologi Anak. Yogyakarta: Laras Media Prima.



No Response to "DISLEKSIA"

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "