Pernahkah kalian mendengar
kata disleksia?
Bagi kalian yang baru
pertama kali mendengarnya, pasti akan bertanya-tanya.
Apa sih yang dimaksud
dengan disleksia?
Tapi pernahkah kalian
menonotn film Taare Zamen Par.
Loh apa hubungannya dengan
film????
Taare Zamen Par
merupakan film yang menceritakan tentang
anak penyandang diskelsia, bernama Ishaan Nandkishore Awasthi. Ishaan merupakan
anak kelas 3 SD, yang perkembangan akademiknya sangat tertinggal karena tidak
dapat membaca dan menulis.
Disleksia Anugrah Terselubung
Disleksia merupakan kata
yang berasal dari bahasa Yunani δυς- dys- ("kesulitan
untuk") dan λέξις lexis ("huruf" atau "leksikal").
Disleksia(Inggris: dyslexia) adalah bentuk gangguan belajar
yang bukan diakibatkan dari retardasi (kelambatan) mental, cacat fisik,
kurangnya motivasi belajar, kelambatan memahami instruksi atau tidak adanya kesempatan belajar akibat
faktor ekonomi, kebudayaan atau lingkunga. Tetapi disleksia adalah
sebuah kondisi ketidakmampuan belajar
pada seseorang yang disebabkan oleh kesulitan pada orang tersebut dalam
melakukan aktivitas membaca
dan menulis.
Penyandang disleksia
umumnya mempunyai tingkat kecerdasan dan pemahman yang normal serta mampu
berbicara lisan dengan baik. Namun mereka kesulitan dalam hal membaca, menulis,
dan mengeja dalam bahasa ibu. Kesulitan mereka dalam hal tersebut membuat orang-orang
mencapnya sebagai anak yang bodoh.
Otak Yang Unik
Disleksia merupakan
penyakit keturunan, disebabkan adanya kelainan gen dalam rangkaian kromosom nomor
enam yang lebih dominan. Kelainan kromosom ini menghasilkan perbedaan
neurologis pada otak. Penyandang disleksia memiliki belahan otak kanan yang
lebih besar dari pada orang normal. Karena keunikan ini otak penyandang
disleksia memiliki kabel-kabel yang berbeda pula. Neuron mereka berada di
tempat yang tidak lazim dan susunannya tidak serapi pada orang non disleksia.
Saat membaca penyandang
disleksia tidak menggunakan otak kirinya seperti pada orang normal, sehingga
mereka tidak mampu menyimpan memori visual huruf dan angka. Hal tersebut
disebabkan karena terjadinya cross
lateralization, dimana fungsi otak kanan dan otak kiri saling bertukar.
Misalnya mereka terpaksa menggunakan area di hemister kanan untuk membaca, dan
karena daerah ini tidak beradaptasi dengan baik untuk tugas ini, maka
kemampuannya pun tidak maksimal.
Namun, kelainan otak ini
pula yang membuat penyandang disleksia memiliki keistimewaan dibandingkan orang
non disleksia. Mereka dianugerahi bakat-bakat yang didukung oleha otak kanan,
yang memberi mereka kelebihan dibidang artistik, atletik, mekanik, musikal, daya
visualisasi 3 dimensi, dan kemampuan konseptual matematika. Selain itu mereka
juga lebih kreatif, imanjinatif, intuitif, mampu berfikir global yang didukung
rasa ingin tahu dan keuletan.
Daftar pustaka
Mulyanti,Sri. 2013.
Perkembangan Psikologi Anak. Yogyakarta: Laras Media Prima.





No Response to "DISLEKSIA"
Posting Komentar