Senin, 12 Mei 2014 Tags: 0 komentar

Menjadi Guru Ideal dan Inovatif



Pembelajaran yang monoton, tidak menarik, membuat bosan hingga tak menyenangkan. Sebagai seorang guru maupun calon guru, hal tersebut pasti tak kita inginkan dalam kegiatan pembelajar. Mungkin kita pernah mengalaminya, jadi akan tahu rasanya. Karena itu maukah kita membiarkan hal itu terus terjadi. Kita sebagai agent of change haruslah membuat perubahan yang baik, membuat kegiatan pembelajaran menjadi menyenangkan dan bermakna.
Untuk itu, berikut ini adalah 10 langkah menjadi guru ideal dan inovatif :


1.     Menguasai materi pelajaran secara mendalam.
Menguasai materi pelajaran adalah syarat utama menjadi guru yang ideal. Dengan menguasai materi, kepercayaan diri terbangun dengan baik, tidak ada rasa was-was dan bimbang terhadap pertanyaan murid.
                                        
2.    Mempunyai wawasan luas.
Di zaman yang moderen ini, segala informasi dari seluruh negara mudah diakses melalui berbagai media, seperti televisi, koran dan internet. Oleh karena itu sebaiknya guru mengatahui berbagai informasi untuk menambah wawasan. Dengan wawasan yang luas serta up to date, guru dapat memberikan informasi baru yang berhubungan dengan pelajaran, sehingga pembelajaran menjadi menarik dan tidak monoton.

3.    Komunikatif.
Pentingnya komunikasi antara guru dan siswa. Dengan komunikasi yang baik siswa akan merasa nyaman dalam menerima pelajaran. Siswa akan lebih menerima guru yang ramah serta memperhatikan kondisi siswa, dibandingkan dengan guru yang egois.

Dengan melakukan komunikasi seperti menyapa anak didik atau menanyakan keadaannya, siswa merasa diperhatikan, sehingga guru dianggap bagian darinya. Komunikasi semacam ini sangat penting sebagai pendekatan psikologis kepada siswa. Aspek penerimaan seorang guru menjadi faktor penting bagi kelancaran KBM di dalam kelas.

4.    Dialogis.
Seringkali guru selalu menggunakan metode ceramah, tanpa adanya ruang dialog. Sehingga pikiran siswa tidak berkembang dan semangat mengembangkan materi menjadi lemah. Di sinilah pentingnya metode dialog interaktif yang melibatkan dua atau tiga arah, misalnya siswa bertanya, guru menaggapi, kemudian ditanggapi lagi oleh siswa yang lain.

5.    Menggabungkan Teori dan Praktik.
Siswa akan cepat bosan dan jenuh kalau hanya di jejali dengan teori tanpa adanya praktik. Praktik sangat diperlukan sebagai media menurunkan, mengembangkan dan meletakkan pemahaman materi pada otak anak didik. Praktik dapat langsung turun ke lapangan atau sekedar ke laboratorium.
Dengan praktik, ilmu dapat berkembang dengan pesat. Anak-anakpun terlatih untuk menerapkan ilmu yang dipelajarinya.

6.    Bertahap.
Belajar ilmu adalah setahap demi setahap, dari satu, dua dan seterusnya. Bertahap ini meniscayakan pentingnya materi yang disampaikan harus urut, tidak meloncat-loncat. Dalam konteks ini, ketika mengajar, seorang guru harus arif dan bijaksana. Jangan memberikan semua pengalaman dan ilmu kepada siswa dala satu kesempatan. Berilah sedikit demi sedikit agar siswa bisa menerimanya dengan baik. Sebab, jika diberikan sekaligus akan mudah hilang.

7.    Mempunyai variasi pendekatan.
Dalam proses belajar dan mengajar, seorang guru harus mempelajari banyak pendekatan pengajaran. Dengan menguasai pendekatan pengajaran yang banyak, proses belajar dan mengajar dapat berjalan secara variatif, tidak monoton dan selalu segar.

Seorang guru jangan sampai fanatik terhadap satu pedekatan saja, karena siswa akan merasa bosan dan lelah. Akhirnya, mereka tidak konsentrasi terhadap materi yang disampaikan.

8.    Tidak memalingkan materi pelajaran
Dalam mengajar, seorang guru harus berkonsentrasi penuh pada satu arah, satu target dan satu tujuan yang dicanangkan, sehingga hasilnya bisa maksimal. Misal, dalam materi ipa tentang sumber energi, is harus berbicara seputar sumber energi dan hal-hal yang berkaitan dengan materi tersebut, jangan sampai melenceng jauh dari materi.

9.    Tidak terlalu menekan dan memaksa.
                            
Seorang guru harus berusaha untuk mengajar secara alami, tidak terlalu menekan dan memaksa siswa. Jika memaksa dan menekan siswa, efeknya tidak baik bagi perkembangan psikologisnya.

Jika siswa diberi target terlalu tinggi, kemudian melakukan penekanan bahkan pemaksaan di luar batas kemampuan siswa , maka kegiatan belajar mengajar tidak bisa merjalan secara enjoyable.

Guru harus bisa merekayasa suasana, sehingga secara tidak terasa, anak didik yang justru berinisiatif meminta guru menambah dan melanjutkan pelajaran. Di sini letak kesuksesan guru, inisiatif datang dari siswa, bukan dari guru.

10. Humoris, tapi serius
Salah satu ciri guru ideal adalah berwatak dinamis, kompetitif, tapi juga humoris. Di tengah kepenatan pikiran, keletihan fisik dan kebosanan berfikir, humor sangat diperlukan. Dengan selera humor yang tinggi, seorang guru bisa memecah suasana yang menjenuhkan, menghilangkan kepenatan dan meyegarkan pikiran  siswa.

Setelah kepenatan dan keletihan pikiran hilang, guru bisa memulai pelajarannya. Walaupun begitu, dalam humor ini guru tidak boleh berlebih-lebihan, apalagi sampai mengganggu konsentrasi lingkungan belajar di sekitar. Guru bisa memberikan humor-humor yang mendidik, yang dapat menggugah semangat belajar, memberikan motivasi dan inspirasi.






Daftar Pustaka
Asmani, Jamal Ma’mur. (2009).Tips Menjadi Guru Inspiratif, Kreatif, dan Inovatif. Jogjakarta : DIVA Press.

No Response to "Menjadi Guru Ideal dan Inovatif"

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "