Pembelajaran yang monoton, tidak menarik, membuat bosan hingga
tak menyenangkan. Sebagai seorang guru maupun calon guru, hal tersebut pasti
tak kita inginkan dalam kegiatan pembelajar. Mungkin kita pernah mengalaminya,
jadi akan tahu rasanya. Karena itu maukah kita membiarkan hal itu terus
terjadi. Kita sebagai agent of change haruslah membuat perubahan yang baik,
membuat kegiatan pembelajaran menjadi menyenangkan dan bermakna.
Untuk itu, berikut ini adalah 10 langkah menjadi guru ideal
dan inovatif :
1.
Menguasai materi pelajaran secara
mendalam.
Menguasai
materi pelajaran adalah syarat utama menjadi guru yang ideal. Dengan menguasai
materi, kepercayaan diri terbangun dengan baik, tidak ada rasa was-was dan
bimbang terhadap pertanyaan murid.
2.
Mempunyai wawasan luas.
Di
zaman yang moderen ini, segala informasi dari seluruh negara mudah diakses
melalui berbagai media, seperti televisi, koran dan internet. Oleh karena itu
sebaiknya guru mengatahui berbagai informasi untuk menambah wawasan. Dengan
wawasan yang luas serta up to date,
guru dapat memberikan informasi baru yang berhubungan dengan pelajaran,
sehingga pembelajaran menjadi menarik dan tidak monoton.
3.
Komunikatif.
Pentingnya
komunikasi antara guru dan siswa. Dengan komunikasi yang baik siswa akan merasa
nyaman dalam menerima pelajaran. Siswa akan lebih menerima guru yang ramah
serta memperhatikan kondisi siswa, dibandingkan dengan guru yang egois.
Dengan
melakukan komunikasi seperti menyapa anak didik atau menanyakan keadaannya,
siswa merasa diperhatikan, sehingga guru dianggap bagian darinya. Komunikasi
semacam ini sangat penting sebagai pendekatan psikologis kepada siswa. Aspek
penerimaan seorang guru menjadi faktor penting bagi kelancaran KBM di dalam
kelas.
4.
Dialogis.
Seringkali
guru selalu menggunakan metode ceramah, tanpa adanya ruang dialog. Sehingga
pikiran siswa tidak berkembang dan semangat mengembangkan materi menjadi lemah.
Di sinilah pentingnya metode dialog interaktif yang melibatkan dua atau tiga
arah, misalnya siswa bertanya, guru menaggapi, kemudian ditanggapi lagi oleh
siswa yang lain.
5.
Menggabungkan Teori dan Praktik.
Siswa
akan cepat bosan dan jenuh kalau hanya di jejali dengan teori tanpa adanya
praktik. Praktik sangat diperlukan sebagai media menurunkan, mengembangkan dan
meletakkan pemahaman materi pada otak anak didik. Praktik dapat langsung turun
ke lapangan atau sekedar ke laboratorium.
Dengan
praktik, ilmu dapat berkembang dengan pesat. Anak-anakpun terlatih untuk
menerapkan ilmu yang dipelajarinya.
6.
Bertahap.
Belajar
ilmu adalah setahap demi setahap, dari satu, dua dan seterusnya. Bertahap ini
meniscayakan pentingnya materi yang disampaikan harus urut, tidak
meloncat-loncat. Dalam konteks ini, ketika mengajar, seorang guru harus arif
dan bijaksana. Jangan memberikan semua pengalaman dan ilmu kepada siswa dala
satu kesempatan. Berilah sedikit demi sedikit agar siswa bisa menerimanya
dengan baik. Sebab, jika diberikan sekaligus akan mudah hilang.
7.
Mempunyai variasi pendekatan.
Dalam
proses belajar dan mengajar, seorang guru harus mempelajari banyak pendekatan
pengajaran. Dengan menguasai pendekatan pengajaran yang banyak, proses belajar
dan mengajar dapat berjalan secara variatif, tidak monoton dan selalu segar.
Seorang
guru jangan sampai fanatik terhadap satu pedekatan saja, karena siswa akan
merasa bosan dan lelah. Akhirnya, mereka tidak konsentrasi terhadap materi yang
disampaikan.
8.
Tidak memalingkan materi pelajaran
Dalam
mengajar, seorang guru harus berkonsentrasi penuh pada satu arah, satu target
dan satu tujuan yang dicanangkan, sehingga hasilnya bisa maksimal. Misal, dalam
materi ipa tentang sumber energi, is harus berbicara seputar sumber energi dan
hal-hal yang berkaitan dengan materi tersebut, jangan sampai melenceng jauh
dari materi.
9.
Tidak terlalu menekan dan memaksa.
Seorang
guru harus berusaha untuk mengajar secara alami, tidak terlalu menekan dan
memaksa siswa. Jika memaksa dan menekan siswa, efeknya tidak baik bagi
perkembangan psikologisnya.
Jika
siswa diberi target terlalu tinggi, kemudian melakukan penekanan bahkan
pemaksaan di luar batas kemampuan siswa , maka kegiatan belajar mengajar tidak
bisa merjalan secara enjoyable.
Guru
harus bisa merekayasa suasana, sehingga secara tidak terasa, anak didik yang
justru berinisiatif meminta guru menambah dan melanjutkan pelajaran. Di sini
letak kesuksesan guru, inisiatif datang dari siswa, bukan dari guru.
10.
Humoris, tapi serius
Salah
satu ciri guru ideal adalah berwatak dinamis, kompetitif, tapi juga humoris. Di
tengah kepenatan pikiran, keletihan fisik dan kebosanan berfikir, humor sangat
diperlukan. Dengan selera humor yang tinggi, seorang guru bisa memecah suasana
yang menjenuhkan, menghilangkan kepenatan dan meyegarkan pikiran siswa.
Setelah
kepenatan dan keletihan pikiran hilang, guru bisa memulai pelajarannya.
Walaupun begitu, dalam humor ini guru tidak boleh berlebih-lebihan, apalagi
sampai mengganggu konsentrasi lingkungan belajar di sekitar. Guru bisa
memberikan humor-humor yang mendidik, yang dapat menggugah semangat belajar,
memberikan motivasi dan inspirasi.
Daftar Pustaka
Asmani, Jamal Ma’mur. (2009).Tips Menjadi Guru Inspiratif, Kreatif, dan Inovatif. Jogjakarta :
DIVA Press.



No Response to "Menjadi Guru Ideal dan Inovatif"
Posting Komentar