1. Definisi Belajar
“Belajar
adalah proses perubahan pengetahuan atau perilaku sebagai hasil dari
pengalaman. Pengalaman ini terjadi melalui interaksi antara individu dengan
lingkungan” (Anita E. Wool Folk. 1995; 196). Sedangkan menurut Garry dan
Kingsley (1970; 15), “belajar adalah proses tingkah laku (dalam arti luas)
ditimbulkan atau diubah melalui praktek dan latihan.”
Dari
definisi di atas nampak bahwa belajar merupakan perubahan perilaku yang bukan
hasil belajar itu adalah :
a. Kecenderungan perilaku instinktif.
Perilaku
instinktif adalah pola respon yang dibawa sejak lahir dan sudah dimiliki
individu secara relatif sempurna.
Kematangan
dapat diartikan sebagai kesiapan organ fisik maupun psikis untuk menjalankan
fungsi sebagaimana mestinya, kematangan merupakan proses perkembangan yang
datang dari dalam diri individu dan bukan karena pengaruh latihan atau intervensi.
c. Perilaku keadaan sementara.
Perubahan
perilaku yang sifatnya sementara seperti keletihan atau kekuatan karena
pengaruh obat-obat tertentu bukanlah hasil belajar. Pengulangan kegiatan secara
terus-menerus seringkali ditandai oleh rendahnya efisiensi kegiatan sebagai
petunjuk terjadinya keletihan. Keletihan merupakan kondisi yang dapat memperlemah
keterampilan.
2. Bimbingan Belajar
Pengertian
bimbingan belajar adalah proses bantuan yang diberikan kepada individu (murid)
agar dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya dalam belajar sehingga
setelah melalui proses perubahan belajar mereka dapat mencapai hasil belajar
yang optimal sesuai dengan kemampuan, bakat dan minat yang dimilikinya.
Bimbingan
belajar di SD bertujuan sebagai berikut :
a. Pengembangan sikap dan kebiasaan yang
baik,
b. Menumbuhkan disiplin belajar dan
terlatih, baik secara mandiri maupun berkelompok,
c. Mengembangkan pemahaman dan pemanfaatan
kondisi fisik, sosial dan budaya di lingkungan sekolah atau alam sekitar
untuk pengembangan pengetahuan,
keterampilan dan pengembangan pribadi.
Untuk
melihat criteria keberhasilan belajar murid, guru seharusnya mampu melaksanakan
evaluasi berdasarkan orientasi dalam segi :
a. Tujuan, yang sesuai dengan rumusan Tujuan
Pembelajaran Khusus (TPK).
b. Kapasitas, (tingakat kecerdasan dan
bakat) siswa sendiri untuk belajar dalam bidang studi tertentu.
c. Berdasarkan waktu yang ditetapkan untuk
menyelesaikan sesuatu program belajar.
d. Dengan menggunakan norm referenced
(PAN) dimana prestasi seorang siswa dibandingkan dengan prestasi siswa lainnya
(baik temannya sekelompok di tempat yang sama maupundi tempat lain).
3. Jenis - Jenis Masalah Belajar
Masalah
belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh murid dan menghambat
kelancaran proses belajarnya. Kondisi tertentu itu dapat berkenaan dengan
keadaan dirinya yaitu berupa kelemahan-kelemahan yang dimilikinya dan dapat
juga berkenaan dengan lingkungan yang tidak -menguntungkan bagi dirinya.
Masalah-masalah belajar ini tidak hanya dialami oleh murid-murid yang lambat
saja dalam belajarnya, tetapi juga dapat murid-murid yang pandai atau cerdas.
Jenis-jenis
masalah belajar di Sekolah Dasar dapat dikelompokkan kepada murid-murid yang
mengalami:
a. Keterlambatan akademik.
b. Ketercepatan dalam belajar.
c. Sangat lambat dalam belajar.
d. Kurang motivasi dalam belajar.
e. Bersikap dan kebiasaan buruk dalam
belajar.
f. Sering tidak sekolah.
4. Mengidentifikasi
Murid yang Diperkirakan Mengalami Masalah Belajar
Murid
yang mengalami masalah belajar, dapat diidentifikasi melalui :
a. Tes hasil belajar, adalah alat yang
disusun untuk mengetahui sejauh mana murid telah memahami materi.
b. Tes kemampuan dasar.
c. Skala sikap dan kebiasaan belajar,
5. Faktor
- Faktor Penyebab Terjadinya Masalah Belajar Murid Sekolah Dasar
Pada dasarnya setiap masalah pasti terdapat faktor - faktor penyebabnya. Setelah
seorang guru mengetahui siapa murid yang bermasalah dalam belajar serta jenis
jenis masalah apa yang dihadapinya, guru dapat mencari sebab - sebab terjadinya
masalah yang dialami murid dalam belajar.
Tidak mudah menentukan sebab-sebab
terjadi masalah belajar, karena masalah belajar cenderung sangat kompleks.
Bersifat kompleks karena masalah belajar mengandung pengertian, bahwa :
Pertama, masalah belajar dapat timbul
oleh berbagai sebab yang berlainan. Suatu masalah belajar yang sama dialami
oleh dua atau lebih belum tentu disebabkan oleh faktor yang sama.
Kedua, dari sebab yang sama dapat
timbul masalah yang berlainan. Seringkali suatu kondisi yang sama dimiliki dapat
menimbulkan masalah-masalah yang
berlainan pada masing-masing individu .
Ketiga, sebab-sebab masalah belajar
dapat saling berhubungan antara yang satu dengan yang lain. Kadang-kadang
masalah belajar yang di hadapi oleh seorang murid tidak timbul dari satu sebab
saja, melainkan dapat timbul dari berbagai sebab yang saling berhubungan antara
satu dengan yang lainnya.
Pada garis besarnya sebab - sebab
timbulnya masalah belajar pada murid dapat dikelompokkan kedalamdua kategori,
yaitu :
a. Faktor - faktor internal, antara lain :
1) Gangguan secara fisik,
2) Ketidak seimbangnya mental,
3) kelemahan emosional,
4) Kelemahan yang disebabkan oleh
kebiasaan dan sikap yang salah
b. Faktor - faktor eksternal, antara lain
:
1) Sekolah, antara lain :
·
sifat
kurikulum yang kurang fleksibel
·
terlalu
berat beban belajar ( murid ) dan atau mengajar ( guru )
·
metode
mengajar yang kurang memadai
·
kurang
alat dan sumber untuk kegiatan belajar
2) Keluarga ( rumah ), antara lain :
·
keluarga
tidak utuh dan atau kurang harmonis
·
sikap
orangtua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya
·
keadaan
ekonomi
6. Upaya Membantu Murid Dalam Mengatasi Masalah
Belajar
Murid yang mengalami masalah belajar
perlu mendapatkan bantuan agar masalahnya tidak berlarut - larut yang nantinya
dapat mempengaruhi proses perkembangan murid. Beberapa upaya yang dapat
dilakukan adalah dengan :
a. Pengajaran
Perbaikan
Pengajaran perbaikan
merupakan bentuk khusus pengajaran yang bermaksud untuk menyembuhkan,
membetulkan atau membuat menjadi baik.
b. Kegiatan
pengayaan
Kegiatan pengayaan
merupakan suatu bentuk layanan yang diberikan kepada seorang atau beberapa
siswa yang sangat cepat dalam belajar. Layanan ini dapat berupa tugas-tugas
tambahan yang terencana untuk menambah atau memperluas pengetahuan dan
ketrampilan yang telah dimiliki
c. Peningkatan
motivasi belajar
Prosedur yang dapat
dilakukan untuk meningkatkan motivasi siswa dalam belajar adalah sebagai
berikut:
● Memperjelas tujuan-tujuan belajar
● Menciptakan suasana pembelajaran yang
menantang, merangsang dan menyenangkan.
● Memberikan hukuman (hukuman yang bersifat
membimbing, yaitu yang menimbulkan efek peningkatan perilaku kearah yang lebih
baik).
● Menciptakan interaksi yang hangat dan
dinamis antara guru dengan siswa, dan siswa dengan siswa.
● Menghindari suasana yang mengancam dan
menimbulkan tekanan-tekanan seperti suasana yang menakutkan, mengecewakan,
membingungkan dan menjengkelkan.
● Melengkapi sumber dan peralatan
belajar.
d. Peningkatan
ketrampilan belajar
Ketrampilan belajar
sangat dibutuhkan siswa untuk dapat mencapai hasil belajar yang optimal. Untuk meningkatkan ketrampilan belajar siswa
dapat dilakukan dengan cara memberikan informasi dan pelatihan ketrampilan
belajar
e. Pengembangan
sikap dan kebiasaan belajar yang baik
Sikap dan kebiasaan
yang baik tidak tumbuh secara kebetulan, melainkan perlu ditumbuhkan melalui
bantuan yang terencana, terutama oleh guru-guru dan orang tua siswa. untuk itu
siswa hendaknya dibantu dalam hal:
● menemukan motif-motif yang tepat dalam belajar
● memelihara kondisi kesehatan yang baik
● mengatur waktu belajar baik di sekolah maupun
di luar sekolah
● memilih tempat belajar yang baik
● belajar dengan menggunakan berbagai sumber
belajar
● membaca dengan cara yang baik
● tak segan-segan bertanya untuk hal-hal yang
belum diketahui.



No Response to "BIMBINGAN BELAJAR DI SEKOLAH DASAR"
Posting Komentar