Salah satu tugas guru
dalam melakukan aktivitas belajar mengajar adalah melakukan evaluasi hasil belajar.
Aktivitas ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan pencapaian
tujuan pembelajaran yang telah dirancang sebelumnya.
Strategi evaluasi harus sesuai untuk penggunaan yang dilakukan terhadapnya (McMillan, 2004; O’Connor, 2007; Trice, 2000). Untuk memahami bagaimana penilaian dapat digunakan paling efektif dalam pengajaran di ruang kelas, penting diketahui perbedaan antara evaluasi formatif dan sumatif dan antara penafsiran acuan-norma dan acuan-kriteria.
Evaluasi Formatif dan Sumatif
Evaluasi
formatif, dirancang untuk menentukan
apakah diperlukan pengajaran tambahan. Evaluasi formatif atau diagnostik
diberikan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan pembelajaran serta untuk
melakukan perbaikan di tengah mata pelajaran tentang kecepatan dan isi
pengajaran. Evaluasi formatif bahkan dapat dilakukan ”secara mendadak” selama
pengajaran melalui pemeriksaan pembelajaran lisan atau tertulis dan singkat. Evaluasi
formatif bermanfaat sejauh hal itu memberikan informasi, terkait erat dengan
kurikulum yang sedang diajarkan, tepat waktu dan sering dilaksanakan (McMillan,
2004; Safer & Fleischman, 2005).
Sebaliknya, evaluasi sumatif mengacu ke
ujian tentang pengetahuan siswa pada akhir bab-bab pengajaran (seperti ulangan
akhir). Evaluasi sumatif mungkin ya atau mungkin saja tidak sering dilakukan,
tetapi harus dapat dipercaya dan (pada umumnya) hendaknya memberikan
kemungkinan pernamdingan di kalangan siswa. Evaluasi sumatif hendaknya juga
erat terkait dengan evaluasi formatif dan tujuan pembelajaran.
Evaluasi Acuan-Norma dan Acuan-Kriteria
Penafsiran untuk memberikan
tingkatan nilai terhadap kinerja siswa adalah langkah penting dalam evaluasi.
Pernedaan antara acuan-norma dan acuan-kriteria merujuk ke cara nilai siswa
ditafsirkan.
Penafsiran
acuan-norma terfokus pada perbandingan nilai
siswa dengan nilai siswa lain. Misalnya, dalam suatu ruang kelas, biasanya
nilai digunakan untuk memberi guru gagasan tentang seberapa baik seorang siswa
berkinerja jika dibangingkan dengan teman sekelas.
Penafsiran
acuan-kriteria terfokus pada penilaian penugasan
siswa atas kemampuan spesifik, tanpa peduli begaimana siswa lain berkinerja
dalam bidang kemampuan yang sama. Evaluasi acuan-kinerja paling baik dilakukan
jika erat dikatkan dengan tujuan spesifik atau biadang yang ditetapkan dengan
baik dalam kurikulum yang sedang diajarkan.
Evaluasi formatif hampir selalu
merupakan acuan-kinerja. Sebaliknya, evaluasi sumatif dapat bersifat
acuan-kriteria atau acuan norma.
Buku : “Psikologi Pendidikan : Teori dan Praktik.
Edisi Kesembilan, Jilid Dua” karya “Robert E. Slavin”



No Response to "Cara Mengevaluasi Pembelajaran Siswa"
Posting Komentar